Posts

Kisah Sedih di Idul Fitri...


Ini mungkin bukan Lebaran yang baik, namun entahlah, tidak baik pula rasanya saya berkeluh kesah tentang lebaran kali ini, Baik atau buruk, menyenagkan atau tidak, Allah sudah mengatur sedemikian rupa. Lebaran (Idul Fitri) tetaplah membahagiakan. Setidaknya hingga saat ini. 

Lebaran saya mulai dari perjalan ke Kamboja, tugas kantor namanya, "abidin" dalam bahasa saya sehari hari, Abidin disini bukan nama orang, namun Atas Biaya Dinas. Saya ke Kamboja dalam rangka tugas kantor. 

Sebelum berangkat ke Kamboja pada diniharinya, siang hari sebelumnya saya masih sempat menjadi mengantarkan Pak Ali Mukartono, SH (Koordinator Penuntutan Kejaksaan Agung RI) dalam diskusi dengan anggota DPRD terkait pasal 29A PP 21/2007. 

Namun bukan itu yang melelahkan saya, akan tetapi banyaknya barang barang yang harus saya bawa (tepatnya) saya kirimkan ke kampung. Baju lebaran anak, Baju pesanan isteri, dan tentu saja banyak "paragaik" lainnya. 



Surat Untuk Fitriani Nini, Sulit rasanya mengungkapkan perasaan kalau sudah suasananya seperti ini. Bercampur aduk dan entah seperti apa, sungguh bukan hal
yang mudah untuk diterjemahkan menjadi tulisan, bahkan dilisankan-pun rasanya tidak akan sanggup terucap. Akan tetapi dicoba jugalah meski beberapa kalimat, semoga bermanfaat hendaknya.

 ini tepat sembilan tahun yang lalu kita bersepakat dalam kedamaian untuk saling berbagi waktu, hari dan hati dalam ikatan pernikahan. 
Nini yang baik, sembilan tahun sudah semua kita jalani bersama, dan selama itu pula semua sudah kita hadapi berdua. Patutlah kiranya kita mensyukuri semua kebaikan yang telah diberikanNya kepada kita, sepantasnya pulalah kita hari ini berdoa bersama mensyukuri apa yang diberikan dan kita nikmati.

Sembilan tahun bukan waktu yang singkat Ni, seperti BBM ucapan selamat yang Uda terima tadi pagi, "Sebuah pencapaian" itu kata pengirim BBM itu, ditengah sulitnya menyatukan hati, pikiran dalam kebersamaan bernam…
Surat Untuk Rara 
(Ultah ke - 7) 

Assalamualaikum Rara.

Rara anak gadis ayah yang cantik
Rasanya sulit sekali untuk menulis surat ini Nak, sama sulitnya ketika pertama kali ayah bicara pada ibumu saat pertama kali mengajaknya mengayrung rumah tangga sepuluh tahun yang lalu. Tapi, tentu sebuah tulisan akan jauh lebih mudah disampaikan, karena ia bisa ditulis berulang, dan bisa dihapus jika salah, sementara kata kata tidak bisa ditarik kembali saat telah diucapkan.

Rara, gadis kecil yang ayah sayangi.
Ini tanggal 1 Januari Nak, tanggal dimana kau dilahirkan tujuh tahun yang lalu, tanggal dimana kau pertama kali hadir di muka bumi ini menjadi bagian dari perjalanan keluarga besar kita semua. Kini genaplah sudah tujuh tahun usiamu, usia yang kian beranjak dewasa dan kau tentu tengah menuju masa depan yang (aku harapkan) lebih baik.

Rara, Ayah minta maaf, kali ini, kali ini saja, ayah tidak bisa pulang ke rumah, sungguh keinginan bersamamu merayakan ulang tahun, mengamini semua doa doamu ad…
Sesuatu (Yang Mungkin) Tidak Perlu Disampaikan

Ini hanya sekedar catatan singkat yang mungkin tidak perlu untuk dipublikasikan apalagi untuk dibanggakan. Memang ini hanya sebuah catatan kecil yang tidak berarti, namun saya memaksakan diri untuk yakin bahwa catatan kecil ini mungkin akan ada gunanya bagi kita yang membacanya.

Waktu kecil Ibu mengajarkanku untuk tidak mudah melupakan hal hal kecil dalam hidup, dan bahkan sebaiknya dicatat agar suatu saat nanti ketika dewasa menjelang kita sudah mempunyai referensi yang lebih dari cukup untuk membuat sebuah keputusan dalam hidup.

Didikan lain yang aku rasakan dari ibu adalah bahwa kita harus selalu mendengarkan orang lain, meski yang disampaikan itu buruk, tetaplah dengar setiap ucapannya. "Hargai lawan bicaramu," itu yang selalu Ibu katakan. Sesungguhnhya saya bukan pendengar yang baik, bahkan (mungkin) selalu mengantuk ketika orang lain bicara, bukan karena tidak menghargai, tapi memang begitulah adanya.

Namun dalam perjalana…
Lebaran usai... 

Lebaran telah usai, mari kembali ke kantor...
Surat Untuk Rara
Ra, lama rasanya tidak menulis tentangmu lagi nak. Kadang aku berpikir untuk apa  menulis surat, tokh kau belum bisa membaca. Sehari-hari kulihat kau hanya membalik balik buku cerita bergambar, namun kau pasti tidak tahu apa arti tulisan dibawah gambar itu.
Gadis kecilku yang cantik. Waktu terus berjalan nak, kau kian tumbuh besar, makin nakal, makin lincah dan juga makin bisa ndwut. Lucu sekali melihatmu saat ini. Tuhan memberkatimu gadis kecil. Meski kadang nggak tega melihat bundamu mulai kewalahan saat kau berontak dan mengamuk, namun aku membiarkannya karena duniamu adalah kebebasan dan bukan larangan ini/itu yang mengekang semua keinginanmu.
Ra, meski kau tidak bisa membaca, namun aku ingin tetap menulis sesuatu, besar harapanku saat kau bisa membaca nanti, atau saat kau bisa memahami arti kasih sayang, kau akan tahu betapa kasih dan sayang kami tertumpah padamu.
Nak, aku ingin bercerita sesuatu padamu. Mungkin ini lucu bagi sebagian orang, tapi sumpah, ini menakutk…